Sahabat

Sahabat
    Waktu itu aku masih kelas 7. Aku mempunyai sahabat yang aku merasa telah menyiayiakan teman yang baik. Dan kisahku pun dimulai.
Minggu pagi sekitar jam 7 aku sudah wangi dan siap untuk berangkat ke salah satu Universitas di kotaku, bukan karena aku ingin masuk kuliah di sana tetapi karena aku ingin mengikuti salah satu lomba bernyanyi. “Ngapainlah kamu ikut kayak gitu” kata mamaku. “Putri ikut itu karena ingin mendapat pengalaman saja ma” kataku. “Baik tapi jangan lama-lama mama ada kerja ”kata mamaku.
          Perjalanan ke Universitas tersebut hanya di tempuh dalam waktu 5 menit. Mamaku membawanya seperti Valintino Rosi. Sesampainya di sana aku telah bertemu dengan teman-teman SMP aku yang memang telah janjian ke temu di sana jam 7 lewat. Aku banyak dia dan tak banyak bicara. Karena aku membenci kebohongan, alhasil aku benar-benar bosan. Kami di suruh untuk berlari dan membuat kehebohan yang sebenarnya semua itu telah di atur. Saat salah satu kru lomba dan para Artis datang membuatku muak. Seakan akan semua yang di tayangkan di layar kaca adalah hal yang ingin di tonton dan bukan kenyataan apa yang terjadi. Di saat aku sedang kesal dengan semua itu aku bertemu dia. Dia yang aku kira lebih tua dari pada diriku ternyata aku salah. Dia lebih muda dariku dan lebih tinggi dariku. Aku seketika akrab dengannya kami berjanji jikalau salah satu dari kami menang kami tidak akan melupakan satu sama lain. Walau akhirnya kami tidak berhasil lolos tetapi aku senang.
          Keesokan harinya aku datang lagi, kali ini bukan untuk lomba melainkan untuk menemani temanku sembari menunggu aku terus bermain pianika. Tanpa sadar ada salah satu manager yang menawariku untuk menjadi artis cilik tetapi aku menolaknya bahkan untuk meyakinkan diriku dia memberitahu siapa-siapa yang telah sukses di tangannya. Namun tetap saja aku menolaknya.
         Aku mulai dekat dengan dia. Dia juga seperti itu, dia sering menelepon saat malam bercerita tentang kehidupannya. Aku senang dia bercerita kehidupannya dan dia bilang dia akan kuliah di kotaku. Aku mulai dekat dengannya menghabiskan waktu bersmsan  bersamanya. Hingga waktu yang aku benci datang. Aku ingin menghabiskan waktu sendiri tetapi dia, menelepon dan membuatku kesal aku benar-benar marah dan tidak ingin ada siapa pun menggangguku. Aku tidak mengangkat telepon maupun membalas SMS nya.
      “aku benci sekali banyak orang yang menggangguku” kataku dalam hati. “tidak ada yang mengerti diriku selain lagu yang di nyanyikan oleh Kyuhyun. Sudah sejak kelas 3 SD aku menyukai Kyuhyun dan bagiku hanya dialah Cinta pertama di hidupku yang membuat diriku dalam keadaan apa pun tetap tenang dan dapat berpikiran jernih. “Saat mendengarkan lagu 7 years love you aku tanpa sadar menangis, tiba-tiba dadaku rasanya sesak dan aku ingin menangis seakan aku tidak akan pernah menangis lagi. Aku bukan orang yang sering menangis bahkan aku jarang memberikan ekspresi di wajahku. Tetapi hari ini aku benar-benar sangat sedih.
            Aku sadar bahwa aku telah menyakiti sahabatku. Dia sangat baik tetapi aku melampiaskan kesedihan dan kebencianku terhadapnya. Aku merasa buruk untuk pertama kalinya karena telah menyakiti hati sahabatku. Aku berusaha untuk meneleponnya mengirim SMS tetapi usahaku selalu gagal. Pernah sekali aku menelepon dan ayahnyalah yang mengangkat telepon. Aku langsung mematikan telepon. Kedua kali aku mengirim SMS menanyakan keadaannya, namun SMS dariku tidak pernah di balas.
        Beberapa bulan berlalu tetapi hasilnya selalu sama. Tidak pernah ada jawaban, aku mencari akun sosial mediannya. Tetapi tidak ketemu juga. Aku mencoba menelepon nomornya. Tetapi tetap gagal, aku menelepon ayahnya dan aku bertanya apakah dia ada. Ayahnya menjawab ada, saat ayahnya ingin memberikan teleponnya ke dia. Aku bertanya banyak hal apakah dia marah atau aku menyakiti hatinya. Tetapi hal yang aku dengar hanya “Kenapa aku harus marah? Aku bukan siapa-siapa jadi ngapain aku harus marah sama kamu”. Hal itu membuatku sedikit kecewa aku telah menganggapnya seperti adikku sendiri tetapi dia tidak menganggapku sebagai sahabat atau paling tidak sebagai teman.
    Beberapa tahun berlalu aku masih meneleponnya dan berharap agar dia mengangkatnya dan tertawa seperti biasanya. Aku sekarang mengerti kata sahabat dan waktu. Meski sahabatmu telah kau sakiti hanya waktu yang dapat menyembuhkan lukanya. Hari ini aku teringat olehnya karena salah satu teman SMA aku. Dan jika takdir mempertemukanku dengan Dia hal yang ingin aku katakan adalah “Maaf”. Hanya maaf yang bisa aku katakan kepadanya. Aku berharap sekarang Dia masih mengenalku😄😄😄.



Dia =Abdul Zailani.

Komentar

Postingan Populer